Kategori


Artikel Terbaru


Artikel Terkait


Komentar

hamenk
trimak asih ilm unya
2011-12-20 19:56:19
mitrakamera
Sam a2 bos :)
2011-12-21 16:47:08
budiman
moh on penjel asan sec ara sederh ana ttg fps, apa bed anya kal au kita menggunak an for mat mer ekam 1280 x 720 50 fps, dgn 1280 x 720 25 fps? moh on maaf mas ih new bie.
2011-12-25 16:39:03
mitrakamera
FPS atau Fra me per Sec ond ada lah Jum lah bin gkai gam bar yang ditunjukk an dal am satu det ik unt uk gam bar berger ak. Jadi sem akin bes ar FPS nya sem akin mul us gam bar yang dihasi lkan (ti dak patah-pat ah), demiki an sebali knya unt uk FPS leb ih kec il. Terimakas ih :)
2011-12-26 13:38:38
dedy
ser ing sja boss bgi2 ilmux. ...
2011-12-30 09:59:16
mitrakamera
Terimakas ih bos Dedy
2012-01-02 10:59:40
asthree
wah ker en om, ditung gu ya ilmu selanjutn ya. ;)
2012-01-14 08:37:14



Konsep Dasar Sinematografi - DSLR


Apa yang perlu saya ketahui tentang sinematografi digital?

Dalam urutan alfabet, berikut sepuluh konsep dasar yang perlu Anda kenali :
1. Aspect Ratio dan Lensa Anamorphic
Aspect ratio pernah menjadi topik yang hangat bagi sinematografer digital, tetapi tidak untuk saat ini: sebelum perkembangan kamera high definition, standard aspect ratio 4:3 untuk standard-definition televisi sudah terlihat tidak lagi diinginkan untuk siapapun yang mencari pemandangan yang sinematik, karena 4:3 (atau 1.33:1) terlihat sama dengan siaran televisi biasa, sementara komposisi layar lebar adalah yang semua orang harapkan untuk dilihat dalam teater. Ketika kita katakan “4:3,” kita maksudkan pada gambar 4 unit lebar dan 3 unit tinggi. Ketika “1.33:1,” kita maksudkan… ya, Anda sudah mengerti – sama saja dengan 4:3. Sekali lagi Aspect Ratio “1” dihilangkan karena ini tersirat – biasanya fotografer akan menyebut “1.85” daripada 1.85:1.”


Saat ini HDTV secara default sudah layar lebar, dengan aspect ratio 16:9 yang artinya sama dengan 1.78:1 – sangat dekat dengan Aspect Ratio kebanyakan film 1.85:1. Lebih dari dua aspect ratio yang hampir tidak dapat dibedakan ini, aspect ratio layar lebar yang paling umum adalah Sinemascope Ratio 2.35:1, yang sering terlihat dalam multipleks dalam film layar lebar.


Film 2.35:1 biasanya ditembak dengan lensa anamorphic. Lensa Anamorphic tidak bulat dalam pengertian bahwa lensa tersebut memeras gambar untuk diisikan ke dalam negatif atau sensor, dengan langkah tambahan yang dilakukan selama proyeksi untuk melebarkan gambar kembali dengan ukuran yang dimaksudkan. Lihat gambar lensa aneh di atas, dengan aperture oval menunjukkan ketidak bulatan lensa yang merupakan sifat alami lensa anamorphic. Ketika memungkinkan untuk menempelkan lensa anamorphic ke sebuah DSLR, kebanyakan dari kita akan dengan mudah mengambil gambar asli dengan layar lebar (16:9 aspect ratio).

2. Bokeh
Bokeh (dilafalkan seperti “bo” dari “boat” dan “ke” dari “Kentucky”) adalah satu dari sekian banyak alas an banyak shooter (sebutan bagi Foto dan Videographer) yang berpindah ke DSLR. Bokeh diambil dari kata dalam bahasa Jepang “boke” yang mana, secara mudah di terjemahkan, yang artinya “kualitas gambar kabur.” Bokeh mengacu pada bagian gambar yang tidak focus atau kabur. Dalam peralatan pembuatan film, bokeh bukan sekedar kualitas estetis, tetapi juga memungkinkan pembuat film untuk memfokuskan mata pemirsa pada suatu objek atau area yang menarik dalam frame. Bokeh adalah fungsi dari depth-of field rendah (dapat dilihat di bawah).


3. Kompresi & Bit Rate
Kompresi mengacu pada cara untuk mengurangi sejumlah data yang sudah dihasilkan DSLR; dalam kasus shooting video DSLR, semua kamera saat ini menggunakan metode kompresi yag sama. Jika Anda biasa menggunakan format JPEG dalam shooting foto, artinya Anda mengambil gambar yang dikompres; sementara RAW juga dapat melakukan kompresi, adalah sebuah sugesti umum bahwa RAW adalah “tidak dapat dikompresi.” Hal ini karena, sejauh perhatian shooter, ketika kita berbicara tentang kompresi kita berbicara tentang kehilangan – artinya, sebuah codec (algoritma kompresi) yang membuang data dengan tujuan untuk mengurangi ukuran file. Seperti yang dapat Anda bayangkan, mengurangi bagian sebuah gambar mempunyai dampak yang negative, dan sementara codec berurusan dengan gambar secara persepsi dengan tujuan untuk meminimalkan dampak yang dirasakan. Sebagai contoh, jika Anda meng upload video ke youtube, pelayanannya akan langsung mengkompres ulang video Anda dengan tujuan mengoptimalkannya untuk pengiriman via internet; Anda mungkin tidak menyadari kompresinya, tetapi lihat kembali video yang sudah di kompresi ribuan kali dan Anda dapat melihat kompresi membuang data setiap langkahnya. Sisi positifnya, bagaimanapun, codec kompresi juga merupakan alasan kita dapat merekam berjam-jam dalam perangkat memory flash yang tidak mahal seperti CF dan kartu SD.


Format kompresi yang paling umum di DSLR adalah h.264 dam MJPEG, dan sementara keduanya juga membuang banyak data, h.264 secara umum lebih efisien (menghasilkan lebih sedikit gambar kotak-kotak pada bit rate yang sama dengan MJPEG). Bit rate adalah sejumlah data per satuan waktu yang diberikan codec; bit rate yang lebih tinggi selalu lebih baik karena lebih sedikit menggunakan kompresi. Saat ini tidak ada DSLR yang merekam video yang tidak terkompresi.

4. Depth of Field
Jumlah objek dalam foreground, midground dan background semua dalam fokus sekaligus adalah fungsi dari depth of field. Depth of field yang rendah berarti bahwa hanya satu bagian saja yang fokus (dari objek, foreground, midground, dan background); lebar (atau dalam) depth of field berarti bahwa seluruh bagian dalam fokus sekaligus. Depth of field ditentukan oleh jarak focal dan ukuran aperture (lihat pembahasan selanjutnya). Kepopuleran DSLR meledak karena kemampuannya untuk me render gambar dengan depth of field yang dangkal. Hal ini terutama karena ukuran sensor DSLR yang besar (lihat pembahasan selanjutnya “memilih DSLR,” untuk memeriksa ukuran sensor), yang mana secara exponensial lebih besar daripada video kamera sebelumnya. Pada level dasar, depth of field dangkal (DOF) memungkinkan pembuat film mengkaburkan gambar area yang tidak diinginkan.


5. Exposure dan Aperture
Exposure mengacu pada sejumlah cahaya yang diperbolehkan masuk ke DSLR sensor (atau permukaan imaging apapun). Ketika memotret gambar diam, DSLR menggunakan shutter mekanik untuk mengatur exposure dengan dibuka untuk waktu yang diinginkan (1/60th atau 1/1000th per detik, contohnya) dan kemudian menutup. DSLR secara umum mempunyai shutter rata-rata sampai ratusan atau ribuan, tetapi di 24 frame per detik (video mode), dapatkan DSLR Anda mencapai batasan tersebut dengan sangat cepat? Tidak, karena dalam video mode, DSLR menggunakan shutter elektronik – dasarnya sensor DSLR mati dan menyala untuk mengatur exposure, daripada mengandalkan hambatan fisik (misalnya shutter mekanik) untuk mengatur cahaya.
Aperture mengacu pada bukaan yang dapat di atur dekat dengan bagian belakang lensa yang memungkinkan cahaya masuk – jumlah cahaya yang masuk biasanya dikenal dengan sebutan F-stop (T-stop sangat dekat pengertiannya, kecuali pada ukuran kalkulasinya). Ingat dalam pikiran kita bahwa ukuran aperture tidak hanya berdampak pada sejumlah cahaya, tetapi juga sudut cahaya yang mesuk ke sensor – aperture yang sempit menghasilkan gambar dengan depth of field yang lebar, sedangkan aperture yang besar menghasilkan gambar dengan depth of field yang lebih dangkal.


6. Focal Length
Secara teknis, focal length mengacu pada jarak dimana sinar parallel dibawa ke titik fokus. Sebuah cara mudah untuk memikirkannya: focal length mengacu pada perbesaran gambar. Semakin panjang focal length, misalnya 100mm, membuat objek jauh terlihat besar, dilain pihak objek yang sama terlihat lebih kecil dengan focal length yang lebih pendek, misalnya 35mm. focal length juga mengacu pada sudut pandang; focal length yang lebih panjang mempunyai sudut pandang lebih sempit, dilain pihak focal length yang lebih pendek mempunyai sudut pandang yang lebih luas. Ketika berbicara focal length, sebuah gambar akan menjadi sangat layak, berikut adalah gambar yang diambil di tempat yang sama, tetapi dengan focal length lensa yang berbeda :


7. Frame Rate
Frame rate adalah banyaknya gambar yang dapat ditangkap DSLR Anda berturut-turut. Ini biasanya sesuai dengan angka yang ditunjukkan dengan angka tepat sebelum huryf “P” dalam hal ini adalah progressive images, jadi artinya 24p adalah 24 frame per detik, 30p artinya 30 frame per detik, dan 60p adalah 60 frame per detik. Frame rate yang berbeda mempunyai karakteristik rendering gambar yang sangat berbeda, yang mana dapat dikombinasikan dengan shutter speed yang berbeda, menghasilkan gambar dengan karakter yang sangat berbeda. Gambar bergerak mempunyai frame rate standard 24p sejak tahun 1920 an, dan penonton datang untuk menyamakannya dengan frame rate sebuah sinema, jadi shooting dalam 24p adalah penting jika Anda berencana untuk shooting materi cerita. Bagaimanapun, Anda tidak perlu selalu shooting dengan frame rate yang sama setiap waktu. Misalnya, jika DSLR Anda dapat shoot 60p, ini menjadi sangat efektif untuk mendapatkan rekaman gerak lambat (slow motion) – apapun dalam shooting 60p dapat dimainkan kembali di kecepatan 40% dalam taimeline 24p untuk efek gerak lambat yang sempurna, dan dapat di perlambat lagi di system editing Anda.

8. ISO & Noise
ISO adalah International Organization for Standarization, itulah mengapa Anda melihat ISO banyak digunakan di berbagai tempat selain fotografi – banyak bisnis mempunyai sertifikat ISO:9001, misalnya. Sebagai sinematograferkita fokuskan saja pada satu standard, bagaimanapun – salah satu yang mengukur kebisingan dalam fotografi. ISO yang dikaitkan pada fotografi digital adalah berdasarkan kecepatan film analog standard – sementara kita tidak dapat shooting sebuah frame film dengan DSLR. ISO adalah pengukuran logarithmic, jadi ISO 400 dua kali lebih sensitif terhadap cahaya dibandingkan ISO 200, ISO 200 dua kali lebih sensitif terhadap cahaya dibanding ISO 100, dan seterusnya.
Hubungan antara sensitifitas dengan noise (bercak hitam pada gambar) dasarnya adalah berbanding lurus atau linear, bagaimanapun, untuk ISO yang tinggi, gambar yang dihasilkan lebih terang – dan makin tinggi mengandung noise. Walaupun begitu, berterimakasihlah kepada noise reduction yang handal di ISO yang tinggi.

9. Progressive vs. Interlaced (Lemot)
Kelemotan pernah terjadi di tahun 1930 an untuk teknologi monitor tua CRT yang telah hidup cukup lama. Waktu itu, bandwitch video masih sangat terbatas dari hari ini, para insinyur menemukan cara untuk membagi frame menjadi dua gambar dan menampilkannya menggunakan interface yang berbeda. Seperti yang dapat Anda lihat gambar sebuah ban, keLemot an dapat mengakibatkan gambar bergerak menjadi berbayang. Kita beruntung hidup di lingkungan yang progressive saat ini – dalam sense gambar bergerak, yang berkaitan dengan gambar bergerak. Dibandingkan dengan gambar Lemot, gambar progressive mempunyai resolusi vertikal yang lebih tinggi, mengurangi resiko gambar berbayang, dan dengan skala yang lebih baik (baik spasial maupun temporal). Jadi jangan biarkan teman Anda shooting dengan Lemot! Untungnya, ketika banyak kamera video yang shooting Lemot, setiap DSLR saya rasa sudah dapat shooting secara progressive.

10. Shutter Speed
Shutter speed mengacu pada lamanya waktu sebuah gambar di jepret. Untuk film SLR, ini mungkin dapat di ukur dengan satuan waktu shutter mekanik kamera yang terbuka, tetapi untuk shooting video di DSLR, ini disimulasikan secara elektronik. Shutter speed mempengaruhi sejumlah cahaya yang sampai pada kamera dan juga berpengaruh pada gerakan render objek yang bergerak.


Shutter speed rendah mengasilkan gambar yang lebih lembut dan lebih terang (termasuk trik mengkaburkan gambar air dan cahaya), sedangkan shutter speed yang lebih tinggi menghasilkan gambar yang lebih gelap dan lebih stroboscopic.
Gambar bergerak kamera film biasanya shoot dengan shutter 180 derajat, yang artinya bahwa shutter terbuka 50% pada saat itu (180 – 360 derajat). Ini berarti jumlah waktu shutter speed Anda terbuka adalah setengah dari frame rate shooting; berarti, pada 24 frame per detik, 180 derajat shutter speed terbaik yang dapat ditiru DSLR adalah dengan memilih kecepatan shutter 1/48.
Lower shutter speeds yield a brighter and smoother image (up to and including water and light blurring tricks), whereas higher shutter speeds result in a darker and more stroboscopic image.

Di download dan di terjemahkan dari : http://nofilmschool.com/

Di tulis oleh : Koo (The DSLR Cinematography Guide)

Kirim Komentar


*Nama:
*Email:
Url:
*Komentar:
*Berapa 9 + 14 ?
Isi dengan jawaban yg benar
: